
MINSEL, PELOPOR MEDIA – Pengadaan obat yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa Selatan mulai jadi sorotan masyarakat luas, pasalnya beberapa waktu belakangan obat di sejumlah puskesmas bahkan RSUD milik Pemerintah justru kosong padahal anggaran miliaran selalu difokuskan pada obat-obatan
Salah satu masyarakat yang enggan namanya di sebutkan beberapa waktu lalu, pihak RSUD justru memberikan resep obat untuk di beli pada salah satu apotek di Minahasa Selatan padahal dalam RS tersebut terdapat apotek
Lewat kejadian tersebut, keberadaan apotek yang ada di RSUD menjadi tanda tanya besar masyarakat. sebab tiap tahun melalui Dinas Kesehatan Minahasa Selatan selalu melakukan pengadaan obat-obatan yang difokuskan pada RSUD dan Puskesmas
Anehnya lagi harusnya melakukan pembenahan, Dinas Kesehatan justru terlalu fokus pada pembangunan fasilitas kesehatan,padahal bangunan yang tidak digunakan sangat cukup untuk memenuhi pelayanan pada kesehatan
Nampak anggaran yang dikucurkan pada pembangunan fisik lebih besar daripada pengadaan obat-obatan. Tiap tahun Dinas melakukan anggaran 1-2 Miliar khusus obat-obatan sedangkan untuk fasilitas pembangunan sampai Puluhan Miliar
Sekertaris Dinas Saat dikonfirmasi menjelaskan, keberadaan obat-obatan berdasarkan usulan pihak Puskesmas dan RSUD.
“Dan terkait obat-obatan yang didapatkan expayer di RSUD, itu terjadi karena kelebihan pengadaan atau kurangnya kebutuhan pasien dan obat yang di dominasi kan obat parasetamol sehingga paling banyak expayer parasetamol” ungkapnya
Di sisi lain Kepala Dinas Kesehatan Minahasa Selatan Wiwin Opod hingga berita ini di tayangkan tidak dapat dikonfirmasi mengingat nomor telah di Blokir pihak Kadis untuk menghindari konfirmasi media.
Pemerintah Kabupaten diharapkan melakukan evaluasi terhadap kinerja Kepala Dinas, guna meningkatkan pelayanan dalam kesehatan masyarakat juga untuk majukan RSUD yang berlokasi di Desa Teep Kecamatan Amurang Barat sebagai bentuk prestasi masa depan Kabupaten. (*)
